Post by : Redaksi
Berita Regional.com Bengkulu Utara – Dilansir dari Media HarianRakyat Proyek peningkatan Jalan Padang Betuah–Perbo dengan nilai pagu fantastis Rp66 miliar kian menuai sorotan. Meski tahun anggaran 2025 telah berakhir, fakta di lapangan menunjukkan proyek tersebut belum rampung dan masih menyisakan banyak pekerjaan hingga Januari 2026, memunculkan tanda tanya besar atas kinerja kontraktor dan efektivitas pengawasan.
Pantauan di lokasi proyek memperlihatkan tumpukan batu bronjong dan timbunan tanah yang belum tertata, sebagian bahkan masih berada di badan jalan. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kelancaran lalu lintas, tetapi juga memunculkan dugaan bahwa material bronjong dikerjakan secara asal-asalan, jauh dari standar teknis proyek jalan berkelas puluhan miliar rupiah.
Lebih ironis, papan informasi proyek tidak ditemukan di lokasi. Raibnya papan kegiatan ini diduga kuat disengaja, sehingga publik kesulitan mengakses informasi dasar proyek, mulai dari nilai kontrak, waktu pelaksanaan, hingga pihak-pihak yang bertanggung jawab. Proyek ini diketahui dikerjakan oleh PT. ROTEK, kontraktor ternama milik (PW) dari Provinsi Bengkulu.
Padahal, berdasarkan informasi yang beredar, anggaran pengawasan proyek ini disebut hampir menyentuh angka satu miliar rupiah. Namun, realita di lapangan justru menunjukkan pekerjaan yang tersendat, item pekerjaan yang belum selesai, serta kualitas pekerjaan yang dipertanyakan.
Kondisi tersebut memicu spekulasi serius di tengah masyarakat. Apakah kontraktor tidak mampu mengelola proyek berskala besar, ataukah lemahnya pengawasan membuat pekerjaan berjalan tanpa kendali? Tidak sedikit pihak menilai kontraktor tersebut belum layak menangani proyek dengan nilai pagu Rp66 miliar.
Menanggapi polemik ini, Anggota DPRD Provinsi Bengkulu Komisi III, Roger, SE, mengaku belum menerima laporan resmi terkait keterlambatan proyek tersebut.
“Saya belum dapat info. Nanti akan saya tanyakan ke Dinas PUPR Provinsi Bengkulu apa penyebab keterlambatan pekerjaan tersebut,” ujar Roger melalui pesan singkat WhatsApp, Jumat (3/1/2026).
Hingga berita ini diterbitkan, Dinas PUPR Provinsi Bengkulu maupun pihak PT. ROTEK belum memberikan keterangan resmi terkait molornya proyek, kualitas material bronjong, serta hilangnya papan informasi kegiatan.
Publik kini menunggu sikap tegas pemerintah provinsi. Proyek strategis bernilai puluhan miliar rupiah seharusnya menjadi contoh profesionalisme, bukan justru meninggalkan pekerjaan setengah jadi dan jejak dugaan kelalaian di awal tahun 2026.
Pewarta : Tim










